Selamat Datang di HarianMercusuar.Com >>> Korannya Rakyat Sulawesi Tengah >>> Terbit Sejak 1 September 1962 >>> Pendiri: Drs H Rusdy Toana (alm) >>> Pimpinan Umum Perusahaan : Tri Putra Toana
Home | Paling Dicari | Pengumuman | Tentang Kami | Redaksi | Hubungi Kami
Kategori Berita
 
Berita Utama (4464)   Daerah   Ekonomi Hukum & Kriminal (2026)   KOMUNITAS Kota Palu (15002)   Opini Pendidikan (2581)Politik (3099)Sekolah (495)   Serba Serbi Ramadhan   Sport Sulteng Membangun (1614)UNIVERSITARIA (487) Semua Kategori 42513  
 
 
   Berita Selengkapnya
 
 
 
 
Azis Bestari Tersudut

PALU, MERCUSUAR – Dari keterangan empat saksi, yakni Said Lamuereke, Djafar Mansyur, Erman Pijarante dan Husain Musa yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU), terkait kasus dugaan ijazah palsu (Ipal) dengan terdakwa Ketua DPRD Tolitoli, Azis Bestari, menyudutkan terdakwa,. Hal itu terungkap dalam sidang di Pengadilan Negeri (PN) Palu, Kamis (5/8).

Said Lamureke, mantan Kepala STN Palu pada Tahun 1976 mengatakan, dirinya tidak pernah menandatangani surat keterangan pengganti ijazah yang dimiliki terdakwa. “Itu bukan tandatangan saya, hanya mirip saja,” kata Said.
Said juga mengaku tidak mengetahui persis jumlah peserta ujian yang didalamnya termasuk Aziz Bestari. “Saya ingat Aziz Bestari karena namanya yang disebut pertama kali pada rapat keputusan dewan guru 15 Desember 1973,” tuturnya. “Saat itu yang menjadi Kepsek di STD Buol Tolitoli, Djafar Mansyur,” tambahnya.
Senada dengan itu, mantan Kepsek STD Buol Toli-toli Djafar Mansyur meyakini bahwa Ijazah milik Aziz Bestari adalah palsu. “Bulan Mei 2009 saya didatangi seseorang bernama Aswa. Dia kemudian menunjukkan fotocopy Ijazah STN Palu atas nama Aziz Bestari dan mempertaanyakan keasliannya,” kata Djafar mengawali keterangannya dihadapan persidangan. Djafar kemudian meyakini bahwa ijazah yang ditunjukkan Aswan tersebut palsu. “Karena pada tahun 1973 saya menjadi Kepala STD Buol Toli-Toli, terdakwa merupakan satu-satunya siswa yang tidak lulus,” jelas Djafar.
Dalam kasus ini, saksi Djafar mengaku tidak mengetahui siapa yang melaporkan terdakwa ke pihak berwajib. “Saya hanya datang untuk memberikan keterangan sesuai apa yang saya ketahui,” kata djafar.
Di akhir keterangannya, Djafar mengaku tidak pernah memberikan surat keterangan pengganti ijazah kepada terdakwa. Hal tersebut dibantah terdakwa. “Saya menerima surat keterangan pengganti ijazah tersebut langsung dari saksi Djafar Mansyur pada Juli 1976,” aku terdakwa.
Sementara itu Erman Pijarante menerangkan bahwa Djafar Mansur pindah ke Palu awal 1974. Erman mengetahui terdakwa tidak lulus karena merupakan satu-satunya siswa yang tidak lulus pada tahun 1973 di STD Buol Toli-Toli sebagaimana diterangkan oleh saksi sebelumnya. “Ketidaklulusan terdakwa saat itu sangat membuat saya kecewa, karena terdakwa merupakan murid yang rajin ke sekolah. Terdakwa adalah murid kesayangan saya,” lanjutnya.
Terhadap keterangan para saksi, terdakwa mengaku pernah tidak lulus tahun 1972, namun kembali mengikuti ujian. “Keterangan saksi tidak benar, Tahun 1972 Ayah saya meninggal, saya mengikuti ujian namun tidak lulus. Kemudian ditahun 1973 saya kembali mengikuti ujian dan lulus,” bantah Aziz.
Husain Musa saksi terakhir yang memberikan keterangannya, mengaku tidak tahu apa-apa soal kasus tersebut. “Saya tidak tahu soal siswa yang lulus dan tidak, saat itu saya masih guru honorer baru dan saat pengumuman pelulusan saya sedang cuti nikah,” kata saksi. Mendengar pernyataan tersebut pihak terdakwa beserta PH-nya tidak mengajukan pertanyaan, demikian halnya dengan JPU. Persidangan tersebut oleh Amin Sembiring ditunda satu pekan, hingga (12/8) mendatang. JPU Lapatawe B Hamka mengatakan bahwa pekan mendatang, masih akan mengajukan saksi lainnya. DAA

  
Item #35681-42559 | Semua Kategori
first | prev | next | last | go to item #